Guru dan Teknologi

Sawangan, 24 Maret 2016Apakah guru dapat diganti dengan teknologi? Jawaban ya dan tidak. Guru yang dapat diganti dengan teknologi adalah guru yang copy paste pengetahuan pada anak. Sementara guru yang mampu mengaktifkan siswa, dan kreatif dalam pembelajaran tak dapat digantikan oleh teknologi. (Mas Anis)

Advertisements
Categories: Uncategorized

Komponen Literasi Sekolah

GLSLiterasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi. Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan komponen literasi informasi sebagai berikut:

  1. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
  2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
  3. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan.
  4. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
  5. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.

 

Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen).Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan tersebut  perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fonetik, alfabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan dan menceritakan kembali (narrative skills). Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak.

Gerakan Literasi Sekolah

gls2Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekono­mi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Develop­ment) secara periodik mengadakan Programme for International Student Assessment (PISA) mengenai kemampuan membaca, matematika, dan sains peserta didik berusia 15 tahun. Dalam dua periode penilaian yang diadakan pada tahun 2009 dan 2012, peserta didik Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara peserta (OECD, 2014).

Rendahnya kompetensi peserta didik di tiga bidang ini mem­buktikan bahwa ada yang belum tepat dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Rendahnya pemahaman terhadap bacaan menunjukkan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompe­tensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajar yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan program literasi sekolah. Program literasi sekolah adalah sebuah upaya menye­luruh yang melibatkan semua warga sekolah dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar agar warga sekolah termasuk peserta didik mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan dapat  memenuhi perannya di era teknologi informasi.

Program literasi sekolah diawali dengan gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendi­dikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjadikan peserta didik mempunyai kebiasaan membaca dan berikutnya terampil membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam menjadikan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat

Penelitian dan Karakteristik PTK

Penelitian dan Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil belajar siswa meningkat. Karakteristik PTK adalah sebagai berikut.ptk

  1. An inquiry of practice from within (penelitian berawal dari kerisauan guru akan kinerjanya).
  2. Self-reflective inquiry (metode utama adalah refleksi diri, bersifat agak longgar, tetapi tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian).
  3. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran.
  4. Tujuannya: memperbaiki pembelajaran.

Dari karakteristik tersebut dapat dibandingkan ciri-ciri PTK dengan penelitian kelas dan penelitian formal. Guru dianggap paling tepat melakukan PTK karena:

  • guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanya,
  • temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran,
  • guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnya,
  • interaksi guru-siswa berlangsung secara unik, dan
  • keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru mampu melakukan penelitian di kelasnya.

Manfaat Keterbatasan, dan Persyaratan Penelitian
PTK bermanfaat bagi guru, pembelajaran/siswa, serta bagi sekolah. Manfaat PTK bagi guru adalah sebagai berikut.

  1. Membantu guru memperbaiki pembelajaran.
  2. Membantu guru berkembang secara profesional.
  3. Meningkatkan rasa percaya diri guru.
  4. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
  5. Bagi pembelajaran/siswa, PTK bermanfaat untuk meningkatkan proses/hasil belajar siswa, di samping guru yang melaksanakan PTK dapat menjadi model bagi para siswa dalam bersikap kritis terhadap hasil belajarnya.
  6. Bagi sekolah, PTK membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut.
    Di samping manfaat, PTK mempunyai keterbatasan, yaitu validitasnya yang sering masih dipertanyakan, serta tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampelnya hanya kelas dari guru yang berperan sebagai pengajar dan peneliti.
    PTK memerlukan berbagai kondisi agar dapat berlangsung dengan baik dan melembaga. Kondisi tersebut antara lain dukungan dari semua personil di sekolah, iklim yang terbuka yang memberikan kebebasan kepada guru untuk berinovasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan saling mempercayai di antara personil sekolah, dan juga saling percaya antara guru dan siswa. Birokrasi yang terlampau ketat merupakan hambatan bagi PTK.
Categories: referensi Tags:

Juara 1 O2SN Tingkat Gugus 2014

 No. Cabang Sekolah Nama Siswa
 1 Volly Putra SMP PGRI Ranca Iyuh Tim Sekolah
2. Volly Putri SMP PGRI Ranca Iyuh Tim Sekolah
 3. Atletik Putra SMP PGRI Peusar Saefi Winardi
 4. Atletik Putri SMP Tarakanita Stefani Wenlan
 5. Badminton Putra SMP 1 Cikupa Febi Febiansyah
6 Badminton Putri SMP 1 Cikupa Shitney Dwi Istiasih
 7 Renang Putra. SMP Pembangunan Wiliam Ardes
 8 Renang Putri SMP Citra Islami Syahla S.
 9 Karate Putra (Kelas Kata) SMP 1 Cikupa Ichwan Puja A.
 10 Karate Putra (Kelas Komite) SMP Ash-Shibgoh M. Ova Setiawan
 11 Karate Putri (Kelas Kata) SMP 1 Cikupa Maila Aulia
12 Karate Putri (Kelas Komite) SMP Al Khoirot Gazlina Hariran
 13 Silat Putra (Tunggal ) SMP Smart Sahidah Ardiansyah
 14 Silat Putri (Tunggal) SMP Prima Bakti Yulianah
 15 Catur Putra SMP 1 Cikupa Suhrowardi
 16 Catur Putri SMP 1 Cikupa Ayu Maulidia
Categories: kesiswaan

Juara Umum

Gugus 3 SMP menjadi juara umum untuk Lomba Seni dan Olahraga tingkat Kabupaten Tangerang

Categories: bantuan

PPDB Kemdikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan layanan gratis untuk PPDB Online. Ada 5 template yang dapat dijadikan pilihan sesuai dengan kebutuhan PPDB tiap kabupaten dan kota. Untuk dapat menggunakannya Dinas Kab./Kota dapat melakukan pendaftaran dengan persetujuan dari Bupati/Walkot. Layanan ini merupakan bentuk upaya pemerintah dalam penyediaan PPDB yang transparan, akuntabel. Beberapa Kab/Kota sudah menggunakannya dan memberikan kepuasan pada publik. Kapan Kabupaten Tangerang? Info lengkap klik tautan berikut.

Categories: bantuan