Home > Gerakan Literasi Sekolah > Gerakan Literasi Sekolah

Gerakan Literasi Sekolah

gls2Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekono­mi (OECD—Organization for Economic Cooperation and Develop­ment) secara periodik mengadakan Programme for International Student Assessment (PISA) mengenai kemampuan membaca, matematika, dan sains peserta didik berusia 15 tahun. Dalam dua periode penilaian yang diadakan pada tahun 2009 dan 2012, peserta didik Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara peserta (OECD, 2014).

Rendahnya kompetensi peserta didik di tiga bidang ini mem­buktikan bahwa ada yang belum tepat dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Rendahnya pemahaman terhadap bacaan menunjukkan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompe­tensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajar yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan program literasi sekolah. Program literasi sekolah adalah sebuah upaya menye­luruh yang melibatkan semua warga sekolah dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar agar warga sekolah termasuk peserta didik mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan dapat  memenuhi perannya di era teknologi informasi.

Program literasi sekolah diawali dengan gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendi­dikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menjadikan peserta didik mempunyai kebiasaan membaca dan berikutnya terampil membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam menjadikan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: